The Maze Runner by James Dashner


The Maze Runner by James Dashner [photo by Rose]
The Maze Runner by James Dashner [photo by Rose]

RATING

✮✮ Story Line

✮✮✮ Plot Twist

✮✮ Cover and Interface

Comfort Reading

Average

3 star

(3 stars out of 5)


BRIEF INFORMATION

Judul: The Maze Runner

Penulis: James Dashner

Penerbit: Mizan Fantasi

Tahun terbit: Cetakan IV, Oktober 2014 (Edisi kedua, Movie Tie-In)

ISBN: 978-979-433-848-3

Jumlah halaman: 478 hal

Ahai hai! Gue balik lagi dengan membawa buku bertemakan fantasi setelah beberapa buku asmara dan romantismenya sukses kuresensi tanpa menunda-nunda. Sekarang mau nulis review yang satu ini perlu memaksa jari-jemari ini untuk bergerak demi kalian pembaca setiaku *lalu terharu*. Ah udah lah ya, yuk langsung aja kita ulas novel seri The Maze Runner karya om James Dashner.

Jadi, seri The Maze Runner ini merupakan sebuah trilogi bergenre dystopia yang lagi nge-hitz baru-baru ini. Ada yang belum paham apa itu dystopia? Nah, genre ini menceritakan masa depan yang muram, jelek, lebih buruk dari masa kini. Kebalikannya utopia yang menggambarkan masa depan yang lebih baik. Contoh novel bergenre dystopia selain The Maze Runner adalah The Hunger Games, Divergent, The Darkest Minds, dll.

Ada tiga buku dari trilogi ini, antara lain:

  1. The Maze Runner
  2. The Scorch Trials
  3. The Death Cure

Dan doakan saja bisa kureview tiga-tiganya mwehehe :3

THOMAS, THE NEW GREENIE

Thomas berada di sebuah boks yang gelap. Dia bingung kenapa dia nggak inget kenapa dia bisa di situ dan bahkan dia nggak inget apapun, kecuali namanya. Setelah boks itu berhenti, tampaklah sekumpulan anak laki-laki yang saling memandanginya. Nggak ada anak perempuan satu pun di situ. Dan di sanalah dia, di tempat yang para anak laki-laki itu sebut, The Glade.

Pemimpinnya Alby, seorang anak berkulit hitam yang keliatannya paling tua di situ. Dan yang kedua ada Newt, keliatannya cukup enak diajak temenan menurut Thomas. Lalu ada Chuck, si imut-endut-unyu, yang jadi pemandunya Thomas selama jadi anak bawang. Para penghuni Glade dipanggil Glader, dan mereka punya tugas masing-masing. Ada yang ngurusin ternak, masak-memasak, medis, dll. Tapi ada satu yang bikin Thomas tertarik, yaitu the runners alias para pelari.

Para pelari ini tugasnya menyusuri sebuah dinding besar yang mengelilingi Glade demi mencari tahu jalan keluar. Dinding itu disebut Maze, semacam labirin. Konon setiap malam, Maze ini berubah polanya sehingga sampe dua tahun para pelari menyusurinya, tetep aja nemu jalan buntu doang. Para pelari ini dipimpin oleh Minho, seorang anak keturunan Asia tampaknya.

Ngomong-ngomong soal Maze nih, setiap menjelang malam Maze tertutup secara otomatis. Maze melindungi para Glader dari makhluk menjijikkan yang terbuat dari mesin, Griever. Nah Griever ini muncul kalo udah malem. Sengatan Griever ini bisa menyebabkan apa yang mereka sebut dengan Perubahan. Perubahan ini menyebabkan orang yang mengalami jadi memperoleh beberapa ingatan yang sebelumnya dihapus. Tradisinya kalo ada Glader yang disengat, mereka langsung membuang Glader itu ke dalam Maze biar dimakan itu sama si Griever *evil smirk*.

A GIRL (FINALLY?)

Strange things start to come. Umumnya, boks bakal datang sebulan sekali untuk membawa anak bawang sama kebutuhan para Glader. Baru sehari Thomas jadi greenie alias anak bawang (sebutan bagi anak baru di Glade), boks itu mulai bergerak lagi. Dan anehnya, kali ini anak bawang yang dibawa boks itu cewek! Iya, ce to the wek! Di tangan cewek itu ada kertas yang bertuliskan “Dia yang terakhir. Untuk selamanya.”

Para Glader langsung ribut. Apa maksudnya yang terakhir? Berarti nggak bakal ada anak bawang lagi dong? Nggak ada anak bawang berarti nggak bakal dikirimin stok barang-barang lagi dong? Wah mati kita. Gimana nasib kita ntar? Ya kira-kira gitulah proyeksi (?) dari kebingungan para Glader.

Semenjak Thomas datang, banyak kenaehan terjadi. Perubahan salah seorang pelari, Ben, yang secara nggak langsung mengatakan kalo Thomas salah satu dari ‘mereka’, ditambah datangnya cewek yang kemudian diketahui bernama Theresa, para Glader pun semakin yakin kalo Thomas ada sesuatu dibalik semua ini. Satu lagi yang bikin segalanya tambah runyam, Maze nggak menutup seperti biasanya lagi.

THE MOVIE ADAPTATION

Novel ini masuk list “novel yang baru gue beli setelah tau udah dibikin filmnya”. Jadi cerita dikit ya, dulu pernah liat trailernya di tipi, tapi ya nggak terlalu ngeh juga. Habis itu waktu ke bioskop mau nonton Annabelle yang enggak nakutin itu, gue liat ada The Maze Runner yang lagi on the show. Baru otak lemot gue inget keknya pernah denger judulnya di mana gitu deh. Lalu setelah dari bioskop, gue ke gramedia dan baru tau ternyata film ini diangkat dari novel. Lalu, lalu, lalu gue baru tau yang jadi main actor-nya DYLAN O’BRIEN!!!! Dan akhirnya gue beli tuh novel (as you may predicted).

Yuk ngintip seganteng apakah Dylan O’Brien main di film ini. Siapin tisu, siapa tau elu nose-bleeding sehabis ngeliat dia *whink*

THE CASTS

ThomasTeresa_1373318531AlbyThe-Maze-Runner-character-cards-Ki-Hong-as-Minho_1373035835Frypan

Ganteng to? Menurut gue, di luar fakta bahwa gue ngefans Dylan O’Brien, dia emang cocok main jadi Thomas. Sekalipun dari novelnya sendiri, si penulis nggak terlalu menggambarkan ciri-ciri fisik Thomas. Tapi entah kenapa Dylan pas banget jadi Thomas yang suka galau, bingung, dan sekaligus nekat. Yang agak nggak sreg sih kekuatan perannya si Alby yang di buku bener-bener bikin kuping panas. Di film justru Alby baik banget sama Thomas, enggak menampakkan kekejaman ala ketua geng gitu. Selanjutnya ada Newt yang udah oke menurutku, so young and so blonde. Theresa? Hmm oke-oke aja sih, sama-sama pucet kaya yang diceritain di novelnya. Minho sedang-sedang aja sih mainnya, entah ada sesuatu yang bikin perannya kurang sreg di hati gue, mungkin dia nggak setegas di novelnya. And theeeen, ada Chuck!! Dia lebih imut dari yang gue bayangkan. Cubit-able banget sumpah. Dan yang paling oke menurut gue adalah peran Gally, bawaannya pengen gregetan mulu liat dia.

Overall, filmnya udah memvisualisasikan keseluruhan cerita di novelnya. Nggak ada poin-poin penting yang dirubah, paling cuma hal-hal sepele yang nggak berpengaruh besar ke jalan ceritanya. Eksekusinya aja yang nggak sesuai bayangan gue karena mungkin emang cara James Dashner menggambarkan nggak terlalu oke juga. Tapi setelah membaca ulang dan menonton ulang filmnya, ternyata emang gue aja yang nggak ngeh sama gaya penceritaan James.

THE GOOD AND THE BAD

Seperti novel-novel bergenre dystopia lainnya, serial The Maze Runner ini sebenernya latar belakangnya sama. Kalo gue kasih tau di sini latar belakangnya apa ntar malah spoiler deh. Intinya, kenapa ada Maze itu alasannya hampir sama karena kemajuan ilmu pengetahuan, percobaan, eksperimen (lah ini gue malah spoiler). Itulah kenapa gue agak sedih kok sama aja sih, cuma alurnya aja yang beda.

Dan gue nggak terlalu suka dengan gaya penceritaan James. Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue nggak terlalu paham sama gimana James mentransfer maksudnya ke pembaca. Or should I blame the translator? Dari penerjemahnya yang nggak terlalu bagus menerjemahkan atau emang dari sononya James kaya gitu? Tell me, kalau kalian baca yang versi originalnya ya.

Selanjutnya, karakter Thomas di sini kok agak menye-menye ya. Nggak laki gitu. Suka ngeluh, galau, meskipun pada akhirnya dia jadi heroik juga. Jarang juga sih sebenernya nemuin novel macam ginian yang tokoh pahlawannya cowok. Mungkin emang kebanyakan novel bergenre young adult fiction itu yang bikin cewek kali ya. Liat deh trilogi THG-nya Suzanne Collins, Divergent-nya Veronica Roth, TMI-nya Cassie Clare.

Yang mau gue kritisi lagi adalah hubungan Thomas dan Theresa. Menurut gue, mereka nggak terlalu menunjukkan chemistry sekuat pasangan di novel-novel lainnya macam Jace sama Clary atau Tris sama Four. Gue berasumsi kalau emang tujuan penulisan novel ini nggak fokus ke cinta-cintaannya, tapi gimana para Glade bisa survive dari Maze. Ini salah satu poin bagusnya, novel ini berani untuk tampil beda dengan nggak ‘menjual’ sisi romantismenya doang.

Gue suka cover filmnya. Mostly, novel yang diadaptasi ke film dan diubah covernya itu jadi jelek. Contohnya Divergent. Tapi The Maze Runner hasilnya jadi bagus. Kesan adventure-nya dapet setelah sekilas ngeliat covernya. Dan dari font buat judulnya sendiri nggak jauh beda sama cover sebelumnya. Pas deh!

Kesimpulannya, novel ini tetep asik buat dibaca karena banyak misteri dan teka-teki di sana meskipun nggak terlalu stand out dari novel-novel bergenre yang sama.

Mau beli? Klik di sini.

Advertisements

One Comment

Add yours →

  1. Aku juga beli novelnya stlh nonton filmnya. Hehe menurutku sih cukup oke. Seru apalagi pas mrk mau kabur dari wicked bareng brenda n jorge. Mudah2an aja the scorch trials gak ngecewain filmnya. ^^

Don't mind to give me your own review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: