The Infernal Devices – Clockwork Angel by Cassandra Clare


Clockwork Angel by Cassandra Clare
Clockwork Angel by Cassandra Clare

RATING

✮✮ Story Line

✮✮ Plot twist

✮✮ Cover and interface

✮✮ Comfort reading

Average

3 star

(3 stars out of 5)


BRIEF INFORMATION

Judul: Clockwork Angel (The Infernal Devices)

Penulis: Cassandra Clare

Penerbit: Ufuk Press

Tahun terbit: Cetakan I, Maret 2011

ISBN: 978-602-8801-88-1

Jumlah halaman: 644

Setelah sukses menyelesaikan enam buku The Mortal Instruments—which is somehow feels like an achievement for me—sekarang giliran gue move on ke seriesnya Cassandra Clare yang satunya. The Infernal Devices, adalah prekuel dari series TMI. Bagi yang belom paham prekuel, itu adalah sebutan buat series yang mengikuti serial sebelumnya. Jadi, TID ini series setelah TMI. Tapi boleh-boleh aja sih kalo mau baca TID dulu. Karena ceritanya nggak ada kesinambungannya. Cuman ya dua series ini berada di dunia shadowhunters aka pemburu bayangan.

Perbedaan TMI dan TID adalah kalo TMI setting waktunya di masa kini dan latarnya New York. Nah, kalo TID ini Cassie mengajak kita melihat dunia pemburu bayangan di zaman Victoria. Jadi ya kira-kira abad 19-an ya. Dan setting tempatnya TID ada di London. Kebayang dong, hot british guys with their sexy accents kaya gimana 😍

THE DARK SISTERS

Tessa Gray berlayar ke Inggris dari tempat tinggalnya yang nyaman di New York demi menemui sang kakak, Nate Gray. Sesampainya di pelabuhan, dia sama sekali nggak menemukan kakaknya dimanapun. Justru, orang asing menemuinya dengan membawa surat dari sang kakak. Tessa pun mau nggak mau percaya karena surat itu menggunakan tulisan tangan milik kakaknya. Ia pun mengikuti kereta yang terdapat simbol dua ular yang saling menggigit dan tulisan “Klub Pandemonium”. Di dalam kereta itu, ia bertemu dua wanita bernama Mrs. Dark dan Mrs. Black. Mereka berdua kemudian dikenal dengan The Dark Sisters alias Saudari Kegelapan.

Tessa dibawa ke rumah kedua saudari itu. Bukannya bertemu dengan kakaknya, Tessa justru terus-terusan dilatih menggunakan kemampuan miliknya yang selama ini tidak ia ketahui. Kemampuan itu memungkinkan Tessa untuk berubah wujud menjadi seseorang yang dikehendaki. Syaratnya, Tessa harus memegang benda milik orang tersebut. Tessa nggak tahu apa tujuan Saudari Kegelapan melatih kemampuannya itu.

Setelah enam minggu berlatih, Tessa mengetahui kalo kemudian dia bakal diserahkan ke sang Magister. Who is dis Magister? Dia nggak tau. Bahkan dia nggak tau yang dimaksud dengan “diserahkan” itu menikah apa gimana. Yang jelas Saudari Kegelapan mengatakan kalo mereka berdua memiliki kesepakatan dengan Sang Magister terkait bakat Tessa.

SHADOWHUNTERS WORLD

Suatu malam, kamar Tessa dimasuki seorang laki-laki. Dia mengira kalo itu Sang Magister yang dielu-elukan Saudari Kegelapan. Tapi, laki-laki itu justru memperkenalkan dirinya sebagai William Herondale. Ganteng, tapi sarkastik. Duh, tipe-tipe bad british boys 😍

Nah, Will mengatakan kalo dia itu pemburu bayangan. Manusia separuh malaikat yang bertugas menjaga stabilitas antara dunia bawah dengan dunia fana/ manusia. Dia ditugaskan menyergap rumah Saudari Kegelapan karena suatu malam, dia dan parabatai alias partnernya, James Carstairs, menemukan mayat seorang gadis di sebuah gang. Kedua pemburu bayangan itu menemukan sebuah pisau yang tampaknya digunakan buat ngebunuh si gadis. Di pisau itu ada simbol dua ular yang saling menggigit—which is simbolnya Saudari Kegelapan.

Pecah deh pertarungan di rumah Saudari Kegelapan. Will memanggil bantuan dari pemburu bayangan lainnya. Akhirnya, mereka berhasil membunuh salah satu dari kedua saudari. Tessa pun ikut dibawa ke rumah para pemburu bayangan yang kemudian kita kenal sebagai “institut”.

Di institut, para pemburu bayangan mencoba mengorek informasi dari Tessa terkait Saudari Kegelapan dan apa tujuan mereka sebenarnya. Institut itu dipimpin oleh Charlotte Branwell dengan suaminya Henry. Nggak hanya suami istri itu, ada juga gadis bernama Jessamine Lovelace yang cukup menyebalkan. And of course, our hotties right there named, William Herondale and James Carstairs. Tessa akhirnya membantu para pemburu bayangan itu untuk mengungkap apa sebenernya yang terjadi dengan syarat mereka harus membantu Tessa menemukan kakaknya.

Berada di institut membuat Tessa menyadari beberapa hal baru. Bahwa dia lebih dari sekedar manusia. Bahwa ada dunia selain dunianya yang terdapat makhluk-makhluk yang dulu ia pikir hanya ada di buku cerita. Bahwa ada pihak-pihak yang menginginkan dirinya beserta kemampuannya. Dan bahwa Will dan Jem itu ganteng *abaikan ini*

THE GOOD AND THE BAD

Membaca TID ini membuat gue inget sama TMI. Lagi-lagi cewek jadi tokoh utama protagonis di serialnya Cassie Clare. Kalo di TID ada Tessa, TMI punya Clary. Trus ada William Herondale yang mengingatkan gue pada Jace Herondale. Mereka berdua sama-sama ganteng tapi sarkastik. Yang membedakan cuma warna rambut Will yang item sedangkan Jace emas. Maybe, sifat tuan-tuan Herondale ini emang dari dulu sok-sokan kali ya.  Jem Carstairs cukup mirip dengan Alec Lightwood, sama-sama kalem dan tenang. Meskipun mereka biologicallyor I must say sexually—berbeda. Well, you know, that sexual orientation *ups*

Selain itu ada Jessamine yang tingkahnya so girly dan kadang nyebelin mengingatkan gue ke Isabelle. Meskipun nyebelinnya Isabelle itu cuma kadang-kadang sedangkan Jessamine seringnya nyebelin. Kemudian ada Charlotte yang mengingatkan gue pada ketegasan dan kebijaksanaan Maryse Lightwood. Dua wanita ini sama-sama rule over their men. Meskipun Henry Branwell masih ada di samping Charlotte, sedangkan Robert Lightwood nyaris pisah sama Maryse.

Banyak kan kemiripan karakter di TID dan TMI?

Kekurangan buku pertama dari TID menurut gue adalah dari problem utama di novel ini nggak sekuat TMI. Di Clockwork Angel ini, permasalahan timbul dari adanya organisasi yang mengganggu kedamaian hubungan antara dunia bawah dengan dunia fana. Organisasi ini diberi nama Klub Pandemonium. Klub ini isinya vampir-vampir elit yang dipimpin oleh De Quincey. Mereka dikabarkan melakukan pembunuhan terhadap manusia dan mempertontonkannya di depan umum seolah-olah itu pertunjukan teater.

Yang gue maksud permasalahan yang kurang kuat adalah problem yang diangkat di sini cuma mengangkat masalah “sehari-hari”-nya pemburu bayangan. Yakni menjaga manusia dari ancaman para penghuni dunia bawah. Dan problem ini cuma mengancam pemburu bayangan di London dan sekitarnya. Nggak sampe seluas problem yang ada di TMI yang bahkan sampe bikin keteteran institut-institut di seluruh dunia.

Well, that’s all I can say. Gimana menurut kalian? Mungkin kalian merasa TID lebih seru daripada TMI? Yuk share di kolom kmentar di bawah!

To buy this book, click here.

Advertisements

Don't mind to give me your own review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: