The Atlantis Gene by A.G. Riddle


The Atlantis Gene by A.G. Riddle
The Atlantis Gene by A.G. Riddle

RATING

Story Line

✮✮ Plot twist

✮✮ Cover and interface

✮✮ Comfort reading

Average

2,75 STARS

(2.75 stars out of 5)


BRIEF INFORMATION

Judul: The Atlantis Gene (Gen Manusia Atlantis)

Penulis: A.G. Riddle

Penerbit: Fantasious

Tahun terbit: Januari 2015

ISBN: 978-602-0900-22-3

Jumlah halaman: 592

Another book I bought karena mau difilmin: The Atlantis Gene. Awalnya tau buku ini bakal diterjemahin ke Indonesia adalah dari tweet-tweet @FantasiousID. Di situ adminnya cerita kalo salah satu latar tempatnya di Jakarta. Nah, tambah penasaran aja gue. Jadi setelah beberapa kali ngelirik buku ini di Gramedia tanpa berani nyomot dari rak, gue akhirnya mempunyai cukup uang buat menghalalkan buku ini *apa sih*. Jadilah sekarang buku ini teronggok di rak buku gue yang semakin lama semakin sumpek aja rasanya.

Well, The Atlantis Gene adalah novel debut dari sang penulis A.G Riddle. Jadi ceritanya beliau ini dulu nge-share tulisannya di internet. Kemudian barulah beliau memberanikan diri untuk mencetaknya menjadi sebuah novel. Dan meskipun debut, The Atlantis Gene udah diterjemahin ke 18 bahasa, gitu sih tulisan di covernya. Dan, dan, dan, udah ada rumor mau diangkat ke layar lebar! Huwaaa hebat sekali bapak ini 👏

Gimana gambaran besar ceritanya? Yuk cek sinopsis di bawah ini!

JAKARTA IS ON FIRE

Kota Jakarta menjadi pilihan Dr. Kate Warner untuk menjalankan proyek penelitiannya tentang autisme. Ia meneliti beberapa anak yang berkebutuhan khusus dari Indonesia, dua di antaranya adalah Surya dan Adi. Mereka berdua memiliki kemampuan kognitif istimewa. Namun, suatu hari lab tempatnya meneliti itu diserang oleh dua orang bersenjata. Akhirnya, dua anak tersebut diculik dan dibawa dengan menggunakan van.

Di tempat lain, Stasiun Manggarai, seorang mantan agen CIA, David Vale yang kini bekerja sebagai kepala cabang Clocktower Security, Inc.—alias Menara Jam, semacam badan intelijen non-pemerintahsedang melakukan misinya bersama dua agen lain. David mendapat informasi dari anonim terkait tencana serangan teroris bernama Protokol Toba. Namun belum sampai memperoleh informasi lebih jauh, kereta yang akan berangkat di stasiun itu meledak. Banyak penumpang yang tewas dan luka-luka. Sebelum polisi dan pemadam kebakaran datang, David dan kedua agennya segera kembali ke markas.

Adanya bom di stasiun tersebut mendorong David untuk mengadakan konferensi kepala analis dari setiap cabang dari menara jam. Salah satu kepala analis pun dimintai tolong David untuk menyelidiki informasi terkait protokol Toba itu. Waktu mereka sangat terbatas karena rupanya beberapa agen menara jam bekerja sama dengan Immari, sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan, untuk mengepung menara jam cabang Jakarta.

Dalam perjalanan David untuk membongkar teka-teki protokol Toba, David bertemu Dr. Kate Warner. Mereka pun bekerja sama untuk menghentikkan eksperimen-eksperimen berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ribuan manusia.

IMMARI’S WICKED EXPERIMENTS

Apa yang terjadi jika nyawa ribuan manusia disia-siakan demi kekhawatiran yang masih belum jelas kebenarannya alias asumsi belaka? Ini yang dilakukan sebuah perusahaan yang punya banyak cabang di dunia, Immari. Sejak perang dunia kedua, Immari telah memulai misinya untuk “menyelamatkan” gen manusia. Mereka punya dugaan kalo sebenernya manusia atlantis yang telah punah itu sedang tertidur. Immari menduga ketika mereka terbangun, manusia atlantis akan marah dan membalas dendam pada manusia modern. Kenapa demikian? Karena dulu konon spesies manusia modern membantai spesies-spesies lainnya, termasuk spesies manusia atlantis.

Immari pun melakukan percobaan supaya gen manusia modern dapat berevolusi menjadi seperti gen manusia atlantis. Tujuannya adalah supaya manusia modern dapat mengalahkan manusia atlantis ketika mereka sudah terbangun. Immari pun melakukan percobaan-percobaan yang nggak berperi kemanusiaan. Mereka rela mempekerjakan manusia-manusia hanya untuk melihat apakah mereka tahan dari sebuah alat yang membuat kulit meleleh kaya es krim yang kena panas. Alat itu biasa disebut Lonceng.

Nggak cuma itu, Immari punya hipotesis kalo otak anak autis lebih mampu untuk bertahan dari Lonceng. Makanya, anak-anak autis dari penelitian Dr. Warner pun diculik demi mengetahui lebih lanjut bagaimana kinerja otak mereka. Serta bagaimana agar manusia-manusia lainnya dapat memiliki kemampuan untuk bertahan seperti halnya anak autis. Semua itu dilakukan Immari demi tujuannya untuk membuat manusia berevolusi dengan menemukan gen atlantis.

THE GOOD AND THE BAD

Ada beberapa hal yang gue kagumi dari si penulis A.G. Riddle. Selama membaca The Atlantis Gene, buanyaakk sekali ilmu pengetahuan yang gue dapet sampe gue bingung menyortirnya. Sejarah evolusi manusia, ras-ras manusia, semua dijelaskan di sini. Salut banget sama beliau yang tampaknya telah melakukan riset yang mendalam ketika menulis buku ini.

Selain itu, The Atlantis Gene ini adalah buku yang multi-genre. Mulai dari Science Fiction, Myth, Suspense, Mystery, Action, sampe Thriller. Keren sih, Riddle mampu membuat buku yang memuat beberapa genre sekaligus. Dan, dengan mengangkat ide “manusia atlantis”, Riddle makin punya poin plus. Karena sejauh pengetahuan gue dalam hal novel fiksi, hanya sedikit yang berani mengangkat ide ini.

Sayangnya, meskipun ide ceritanya menjanjikan, Riddle masih belom dapat mengeksekusinya dengan baik. Pertama, gue mengalami kesulitan sewaktu membayangkan adegan-adegan di novel ini. Kedua, sewaktu membaca ini, gue seolah-olah sedang membaca naskah film. Dari chapter satu ke chapter lainnya, adegannya selalu berubah-ubah dan terpotong-potong kaya kalo di film-film gitu. Bagusnya dengan model semacem ini sih ceritanya bakal fast-paced, tapi sayangnya menurut gue ini justru membingungkan.

Keputusan Riddle untuk membuat novel ini seperti naskah film ini berdampak ke poin ketiga, yakni terlalu banyak karakter di setiap chapter. Ini dia yang menjadi alasan kebingungan gue ketika pertama kali baca buku ini: “Siapa sih tokoh utamanya?“. Dan gue sering salah menebak, “Gue tebak dia nih yang jadi tokoh utama”. Dan di chapter berikutnya ternyata dia mati. Pfft.

Kebingungan gue ini disebabkan karena di beberapa chapter, Riddle mengubah fokus ke karakter baru. Dan di chapter berikutnya, pindah lagi ke karakter sebelumnya. Ini dia dampak karena dia yang mungkin berharap pembaca dapat merasakan sensasi seolah-olah sedang menonton film ketika membaca novelnya. I’m sorry, Mr. Riddle, but I am waayy too confused to portray it like a movie.

Poin ketiga pun menimbulkan efek yang kurang bagus lagi, yakni kurangnya perkembangan karakter. You will hardly understand the main characters’ own mind because Riddle way too busy to make a new character.

Selain itu, ada beberapa chapter dimana Dr. Kare Warner membaca sebuah jurnal dari seorang mantan pasukan militer yang dulu pernah bekerja di Immari. Di situ, jurnalnya sangaaaat detil. Kaya novel. Biasanya sih kalo nulis jurnal/ diary itu nggak terlalu banyak memasukkan kalimat langsung secara tepat dan sesuai apa yang orang katakan. Karena lo nggak bakal mengingatnya dengan persis. Tapi di jurnal ini justru lengkap banget dan mirip banget kaya penulisan di novel atau cerpen gitu. Nggak tau deh, mungkin si penulis jurnal ini ingatannya sangat bagus :3

Setelah diterjemahin dan—gue pikir—sudah melewati proses editing, buku The Atlantis Gene ini masih punya banyak kesalahan-kesalahan sepele semacem salah ketik alias typo. Kaya di halaman 290, kata “memenuhi” jadi “memunuhi”; “meditasi” jadi “mditasi”; “berniap” jadi “berniat”; dan masih banyak lagi. Lalu ada kata yang hilang yang menurut gue keberadaannya cukup penting. Kaya di halaman 292 “…terus melanjutkan aksi tak __ mereka”. “Aksi tak” apa nih maksudnya? Tak kunjung datang malah pergi bersama wanita lain? #halah #abaikan. Menurut gue untuk penerbit sekelas Fantasious, harusnya hal-hal sepele kaya gini nggak terjadi. Yah, tapi mau gimana lagi juga kerjaan manusia :3

Kesimpulannya, novel ini punya ide yang menarik namun eksekusinya kurang baik. Gue cukup struggling buat nyelesaiin satu buku seharga 74ribu ini :”) *mencoba nggak nyesel*

To purchase this book, click here.

Advertisements

One Comment

Add yours →

  1. Saya pikir kekurangan novel ini lebih ke teknik penulisan riddle yang masih asing bagi kebanyakan pembaca

Don't mind to give me your own review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: