The Darkest Minds by Alexandra Bracken


The Darkest Minds by Alexandra Bracken
The Darkest Minds by Alexandra Bracken

RATING

✮✮ Story Line

✮✮ Plot twist

✮✮✮✮ Cover and interface

✮✮ Comfort reading

Average

2,75 STARS

(2.75 stars out of 5)


BRIEF INFORMATION

Judul: The Darkest Minds

Penulis: Alexandra Bracken

Penerbit: Fantasious

Tahun terbit: September 2014

ISBN: 978-602-0900-05-6

Jumlah halaman: 596

Selamat Tahun Baru 2016! Well, layaknya anak-anak hitz jaman sekarang, gue mau bilang ini dulu: first post in 2016. Ha-ha. Anyway, semoga liburan kalian menyenangkan. Baik untuk anak-anak sekolah yang harus merelakan liburan mereka kandas, maupun untuk anak-anak kuliahan macem gue yang menyambut liburan dengan diiringi backsound suara-suara malaikat macem di filem-filem komedi.

Nah, liburan bagi gue adalah kesempatan untuk melahap novel-novel yang menumpuk di dalem rak dan belom terjamah sama sekali. Meskipun begitu, post kali ini membahas soal novel yang udah cukup lama gue tuntaskan dan reviewnya udah nangkring di draft tapi tak kunjung usai. The Darkest Mind karya Alexandra Bracken!

Satu lagi novel dystopia yang kabarnya bakal diangkat ke layar lebar oleh 20th Century Fox. Mulai bosen dengan genre dystopia? Eits, tunggu dulu, boleh jadi novel ini beda dari dystopia-dystopia lainnya. Jadi.. hayuk cek review di bawah ini!

SUPERPOWER KIDS

Dikisahkan di Amerika Serikat, anak-anak berusia sekitar sepuluh tahun banyak yang tiba-tiba meninggal dunia. Rupanya, mereka mengidap penyakit yang bernama IAAN atau Idiopathic Adolescent Acute Neurodegeneration. Sebuah penyakit yang enggak jelas penyebabnya dan belom ada obatnya.

Anak-anak yang berhasil selamat dari IAAN dijuluki Psi. Mereka mempunyai kekuatan-kekuatan yang spesial sekaligus ngeri. Salah satu anak itu adalah Ruby Daly, tokoh utama dalam novel ini. Dia sempat membuat orang tuanya takut bukan main karena kemampuan misteriusnya. Dia lalu dibawa ke kamp rehabilitasi—by her parents permission, for God’s sake!

Camp rehabilitasi itu dibuat oleh pemerintah untuk “mengontrol” anak-anak Psi karena mereka dianggap membahayakan. Tempat ini bernama Thurmond. Di sana, rupanya anak-anak Psi digolongkan dalam beberapa warna. Berikut ini penggolongannya.red

Mereka punya kemampuan untuk membuat dan mengontrol api. Mereka termasuk yang dianggap paling berbahaya daripada warna-warna lain. Mereka pernah mencoba keluar dari Thurmond dengan membakar gedung-gedung dengan kemampuan mereka itu. Akhirnya, mereka dipindah dari Thurmond ke tempat lain.

green

Mereka mempunyai tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Umumnya, mereka punya ingatan fotografi, kemampuan matematis yang hebat, dan kemampuan memecahkan masalah yang tinggi. Karena kemampuan mereka ini ga terlalu memberi dampak yang merugikan buat orang lain, makanya Hijau ga dianggap terlalu berbahaya.

yellow

Kuning bisa membuat dan mengontrol listrik. Kemampuan ini biasanya disebut dengan elektrokinesis. Mereka termasuk berbahaya juga.

blue

Biru punya kemampuan memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan pikiran mereka. Ini semacem telekinesis gitu deh. Bahkan manusia ataupun benda-benda berat bisa mereka pindahkan juga. Hmm menarique.

orangeNah ini yang paling keren menurut gue. Mereka bisa mengendalikan pikiran orang lain hanya dengan menyentuh orang itu. Nggak cuma itu, mereka juga bisa membaca dan melihat pengalaman orang lain. Inilah yang membuat anak-anak Oranye paling ditakuti dan dianggap berbahaya sama pemerintah, selain Merah dan Kuning.

SURVIVING

Masuk ke Thurmond, setiap anak selalu dicek apa kemampuan mereka dan apa golongan warna mereka. Ketika giliran Ruby datang, ia yang sebenernya Oranye, memanfaatkan kemampuannya itu untuk mengelabui petugas dengan mengatakan bahwa ia Hijau. Ia melakukan ini karena mengingat sewaktu pertama kali sampai di Thurmond, ada anak Oranye yang menunjukkan kemampuannya dan malah kena getahnya. Jadilah selama di Thurmond Ruby menutupi identitasnya sebagai anak Oranye.

Di tengah kehidupan yang membosankan di Thurmond, suatu ketika Ruby dibawa secara tiba-tiba oleh petugas kesehatan Thurmond. Ia dibawa keluar dari kamp itu oleh perempuan yang kelak dikenal sebagai Kate. Nggak cuma Ruby, ada seorang anak laki-laki Oranye lain yang dibawa.

Ruby curiga dengan tindak-tanduk Kate sehingga memutuskan untuk melarikan diri. Dalam pelariannya, ia bertemu gadis kecil bernama Suzume. She is a Yellow. Suzume mengantarkan Ruby ke teman-temannya yang lain, Liam Stewart dan Chubs yang sama-sama Biru.

Mereka bertiga tak lama menjadi geng yang tujuannya menemukan safe place bernama East River. Konon di sana anak-anak mendapatkan makanan dan kehidupan yang layak. Sementara mencari East River, Ruby dkk juga harus menyelamatkan diri dari orang-orang yang berusaha mengejar mereka.

THE GOOD AND THE BAD

Hmm where should I start? Well then, I think this dystopian novel isn’t that special. Kenapa begitu? Latar belakang novel ini sama-sama karena adanya suatu penyakit yang diderita kebanyakan orang. Just like The Maze Runner.

Dan entah kenapa jadi merasa bosan ketika tokoh pahlawannya kebanyakan cewek. Mungkin karena udah banyak baca novel-novel dengan heroine-nya. Jadilah ketika membaca TDM gue jadi merasa well a powerful little girl again. Feminism? Maybe.

Dari segi karakternya, menurut gue tokoh utamanya ga terlalu punya karakter yang kuat. Dia kaya ga punya sifat-sifat pahlawan yang dimiliki tokoh-tokoh cewek di novel lain. Contohnya adalah sewaktu masih di Thurmond, Ruby dengan cemennya mencampakkan temennya yang udah beberapa kali berkorban buat dia. At least, seorang pahlawan itu punya jiwa setia kawan lah macem Naruto gitu.

Dari keempat tokoh utama, Chubs lah yang paling gue suka. Cowok yang digambarkan berkulit gelap dan berkacamata ini meskipun cerewet dan sarkastik tapi full of wisdom. Ada beberapa quotes menarik keluar dari mulut Chubs. Salah satunya,

“Yah, yang jelas, dia jauh lebih menyebalkan karena sebentar-sebentar berkata, Kita akan berhasil, kita pasti bisa keluar. Rasanya seperti mati pelan-pelan setelah dia sadar betapa mengerikan keadaan sebenarnya.”

Nah ada lagi nih satu hal yang membuat TDM ga istimewa-istimewa amat. Adanya affair antara tokoh utama dengan salah satu teman seperjuangannya, Ruby dan Liam. Mereka diam-diam punya rasa pada satu sama lain. Meskipun begitu, kisah mereka tampaknya ga terlalu ditonjolkan di sini. Sekedar bumbu penyedap saja. Ya harapan gue sih kalo Bracken mau menyisipkan hubungan asmara di antara para tokohnya paling enggak dibuat bermakna dan ‘kena’ di hati pembaca. Not just another love story.

Yah, selain Chubs, ada satu lagi yang gue suka dari TDM. Covernya. Fantasious memutuskan untuk membuat cover TDM sama dengan novel aslinya. Ada lambang Psi (Ψ) dengan bara api di sekitarnya. Wah mencekam sekali, bung. Nggak cuma itu, ada kawat-kawat—yang kayanya bakal menyakitkan kalo dipegang—di bagian atas dan bawah cover. Kawat-kawat ini juga ada di setiap pergantian bab.

I don’t know about the original book, tapi pembatas buku yang versi Indonesianya so kewreeeen dan so keeewwlll haha. Bentuknya lambang Psi juga. Jadi beda dari novel-novel lain yang pembatas bukunya persegi panjang biasa. Tapi agak rapuh kalo dipegang dikarenakan kertasnya yang lemah *halah*

Nah, udah kayanya itu aja pendapat gue soal TDM. Tentang akan diangkatnya buku ini oleh 20th Century Fox gue belom mendengar kabar barunya. Yah, karena sudah membacanya jadi kalo memang mau difilmkan akan tetap gue tonton. Semoga lebih bagus yak dari novelnya.

To purchase this book, click here.

Advertisements

Don't mind to give me your own review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: