An Abundance of Katherines by John Green


An Abundance of Katherines by John Green
An Abundance of Katherines by John Green

RATING

✮✮✮ Story Line

✮✮✮ Plot twist

✮✮✮✮ Cover and interface

Comfort reading

Average

3.5 star

(3.5 stars out of 5)


BRIEF INFORMATION

Judul: An Abundance of Katherines (Tentang Katherine)

Penulis: John Green

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: September 2014

ISBN: 978-602-030-893-7

Jumlah halaman: 596

An Abundance of Katherines. Buku John Green kedua yang gue baca setelah The Fault in Our Stars. Sempet ragu membeli buku ini karena kesan gue sama TFIOS isn’t really good. Tapi karena tertarik dengan sinopsis di belakang bukunya, jadilah gue memutuskan membeli buku ini.

Apakah ceritanya semenarik sinopsisnya? Yuk cek review di bawah ini!

KATHERINE, KATHERINE, KATHERINE

Colin Singleton adalah seorang remaja cowok yang punya—entah disebut kebiasaan, hobi, atau kesukaan, dengan cewek bernama Katherine. Harus K.A.T.H.E.R.I.N.E, ga boleh ada satu huruf yang beda. Catherine pun gaboleh. Pacar-pacarnya selama ini juga bernama Katherine, every single one of them. Dan Colin udah berpacaran dengan 19 Katherine. Hmm menarique.

Setiap dia pacaran sama cewek bernama Katherine, dia punya cerita sendiri-sendiri. Mulai dari Katherine I yang cuma pacaran selama beberapa menit, sampai Katherine XIX yang mencampakkan dirinya. Sampai akhirnya, Colin yang suka main anagram (mengotak-atik kata untuk menghasilkan kata baru) ini melakukan perjalanan bersama sahabat baiknya, Hassan.

Selama perjalanan itu, Colin berusaha untuk menemukan teorinya tentang memprediksi hubungan asmara seseorang. Apakah itu akan dicampakkan atau mencampakkan. Harapannya adalah dengan ditemukan teori ini kelak bisa menolong manusia-manusia tercampak di luar sana agar tidak tercampak lagi. Duh mulia sekali mas Colin ini.

Tapi, setelah sampai di Tennessee dan bertemu gadis bernama Lindsey, Colin menemukan hal-hal yang akan merubah pandangan hidupnya selama ini…

THE GOOD AND THE BAD

I LIKE THIS BOOK!!!!

Seriously, this book made me laugh in the middle of the night and in the middle of kesunyian rumah. Leluconnya khas American jokes sih tapi masih bisa dipahami sama manusia Indonesia. Ciri khas John Green di sini keliatan banget. Selain humor-humor tadi, bahasanya juga ringan dan anak muda banget. Well, two thumbs up for him.

Novel ini cukup unik sih menurut gue dibanding novelnya John Green lainnya. Pertama, karena ada ya orang yang strict banget punya pacar harus dengan nama yang sama-sama Katherine. Kedua, adanya grafik-grafik matematis hasil coret-coretan Colin selama menyusun teorinya. Di awal gue berpikir, jangan-jangan John Green lulusan matematika. Ternyata di belakang buku dijelaskan, dia dapet bantuan dari temennya yang jago matematika.

Grafik-grafik ini bener-bener digambarkan di buku, bahkan di tengah-tengah cerita. Jadi pas baca novel ini kaya berasa baca buku modul matematika, which is, gue skip. Wk.

Tapi rupanya, John Green melampirkan penjelasan di belakang novelnya biar pembaca yang penasaran apa maksudnya grafik-grafik itu tadi. Buat yang penasaran aja lho ya, gue enggak. Jadi, gue skip. Wk. *this is why gue nggak cocok masuk jurusan matematika*

Oke balik lagi ke buku. John Green tampaknya memang suka bikin novel-novel dengan alur cerita yang sederhana dan jadi bacaan yang “mudah”. Ini juga gue rasakan di An Abundance of Katherines. Ide pokok dari novel ini adalah Colin yang seringkali dicampakkan pengen menemukan teori bagi manusia yang tercampak. Udah, itu aja. Konflik yang mengiringinya juga enggak dahsyat. Tokoh yang kena konflik pun juga nggak menanggapinya dengan dramatis. Ending pun juga terasa, ‘oh iya udah gitu aja?’

Mungkin dengan membuat novel-novel seperti ini John Green pengen menunjukkan kehidupan nyata itu kaya gini lho. Ga harus ada dramatisasi, just let it flow. Hal ini juga keliatan banget sih di ending. Bukan bermaksud spoiler ya, endingnya membuat lo berpikir bahwa akhir cerita nggak harus ada kesimpulan pamungkas. Karena pada dasarnya kehidupan itu terus berlanjut meski lo udah menutupnya *halah ngomong apa*

But seriously, ini novel yang menyenangkan untuk dibaca. Bukan sebagai bacaan yang membuat dahimu berkerut, tapi membuat bibirmu berkedut. Hashtag Eaaa~

To purchase this book, click here.

Advertisements

2 Comments

Add yours →

  1. Indah Nur Cahyoningsih 29/07/2016 — 11.31

    sebuah keputusan yang bener mi kalo ini buku kamu suka, menurutku isinya itu ngga ngebosenin dan what a sompral is the only way i can describe it 😀

    btw, semoga kamu selalu nulis review-review novel yang kece gila

Don't mind to give me your own review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: