Legend by Marie Lu


Legend by Marie Lu
Legend by Marie Lu

RATING

✮✮✮✮ Story Line

✮✮✮ Plot twist

Cover and interface

✮✮✮✮ Comfort reading

Average

3.75 star

(3,75 stars out of 5)


BRIEF INFORMATION

Judul: Legend: Los Angeles 2130

Penulis: Marie Lu

Penerbit: Mizan Fantasi

Tahun terbit: Desember 2012

ISBN: 978-979-433-724-0

Jumlah halaman:

 Satu lagi trilogi dystopia yang aku selesaikan. Kali ini trilogi karya Marie Lu, penulis asal Los Angeles, Amerika Serikat. Trilogi ini terdiri dari novel-novel berikut ini.

  1. Legend
  2. Prodigy
  3. Champion

Hebatnya, aku berhasil menyelesaikan ketiga novel ini dalam waktu lima bulan! Wah hebat ya *sombong* Kalo aku bisa baca cepet, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, karena sangat membosankan dan ga boleh ga dibaca gara-gara udah terlanjur beli ketiga bukunya. Kedua, karena emang sangat seru dan gampang dibaca. Kira-kira, kemungkinan mana yang terjadi waktu aku baca trilogi ini? Yuk baca review novel pertamanya, Legend!

REPUBLIC OF AMERICA

Pada tahun 2050-an, dunia dilanda banjir besar. Bencana ini banyak memakan korban dan mengubah banyak hal di dunia. Ada perubahan kekuatan ekonomi, yang dulunya dikuasai Amerika Serikat atau Eropa, kini berpindah ke Afrika. Ada juga pergolakan politik dimana-mana yang menyebabkan terbelahnya satu negara menjadi dua. Semacem yang terjadi di Jerman Barat dan Jerman Timur. Nah, salah satu negara yang terpecah menjadi dua adalah Amerika Serikat. Negara yang dulunya adidaya itu kini terdiri dari Republik Amerika dan Koloni Amerika. Republik dipimpin oleh seorang Elektor yang cenderung militeristik, sedangkan Koloni terdiri dari lima perusahaan besar yang tentunya bersifat kapitalistik.

Terbaginya AS menjadi dua negara ini bukan tanpa adanya gesekan. Perang, pemberontakan, kerusuhan terjadi dimana-mana. Sekarang bukan tentang AS vs negara lain, tapi Republik vs Koloni. Yaa sebut saja civil war lah ya. Cuman bukan antara kapten ganteng ulala versus bapak-bapak usia lima puluhan tapi masih rasa oppa. Oke kita hentikan sesi fangirling ini.

Nah, karena Republik wilayahnya dianggap lebh luas ketimbang Koloni, maka banyak orang yang bermigrasi. Saking banyaknya yang bermigrasi, maka dibikin perbatasan semacem tembok Berlin gitu untuk mencegahnya. Tapi ada yang pintar mengakali dengan membangun terowongan bawah tanah.

Perang yang terjadi mendorong negara untuk mempropagandakannya kepada rakyat. Kalo di Republik, rakyat terus-terusan dicekoki pesan-pesan yang berisi kebencian terhadap Koloni. Nggak cuma itu, pesan-pesan itu juga menyampaikan tentang kemenangan Republik terhadap Koloni. Tujuannya nggak cuma buat menumbuhkan nasionalisme rakyat terhadap Republik, tapi juga memperkuat kebencian rakyat kepada Koloni.

JUNE

Di Republik, ada kewajiban bagi anak-anak yang menginjak umur 10 tahun (kalo nggak salah), buat mengikuti Ujian. Di situ menentukan si anak apakah dirinya pantas masuk ke universitas untuk kemudian dimasukkan ke kemiliteran. Hanya segelintir anak yang bisa mendapat nilai lebih dari 1500. Tapi, ada satu anak yang punya kecerdasan di atas rata-rata dan mencetak rekor dengan mendapat nilai sempurna, 2000! Anak itu adalah June Iparis.

Kecerdasan June dikenal dimana-mana. Dia lulus dengan lancar dan langsung masuk ke militer. Di sana pun dia juga dikagumi karena ketangkasannya. June ga cuma cerdas dan kuat, dia juga cantik. Jadilah dirinya dinobatkan sebagai anak emas Republik.

June tinggal di Los Angeles, di sektor Permata, sektor dimana orang kaya tinggal. Dia punya seorang kakak bernama Metias Iparis. Kakaknya juga punya jabatan yang cukup tinggi di militer Republik. Dari kakaknya juga dia belajar banyak soal bertarung. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Metias jadi satu-satunya keluarga yang June punya. Tapi, semenjak ada penyerangan di rumah sakit di Los Angeles, nggak disangka-sangka Metias mati. Kematian Metias ini memang bikin June hancur, tapi justru di balik itu dia mulai menemukan hal-hal mengejutkan yang sudah menanti dirinya…

DAY

Seorang anak laki-laki yang sayang keluarga dan nekat melakukan apa pun demi keluarganya. Kayanya kalimat itu cocok banget buat menggambarkan Daniel Altan Wing alias Day. Dia berasal dari keluarga yang miskin, makanya dia tinggal di sektor Lake, sektor kumuh di Los Angeles. Sejak kemunculan wabah, adiknya Eden Bataar Wing pun terkena dampaknya. Dia harus berusaha mati-matian untuk mencari obat buat adiknya.

Segala hal nekat dilakukan Day demi kesembuhan sang adik. Dia bahkan berani ‘mengusili’ pemerintah dan pihak-pihak berwenang demi mendapat obat. Day sangat cerdik agar tidak ditangkap. Dia punya kemampuan memanjat gedung yang sudah dikenal banyak orang. Wah kaya Spiderman aja ya. Pernah dia mengebom tank Republik kalo nggak salah (maafkan aku sangat pelupa). Dari keusilan dia itu, dia jadi buronan dan harus meninggalkan rumahnya. Ibunya aja berpikir dia udah mati. Yang tahu Day masih hidup cuma kakaknya, John.

Meskipun jadi buronan, Day tetap tidak menyerah. Dia berusaha menyusup ke rumah sakit untuk mencuri obat-obatan. Usaha Day hampir saja gagal ketika seorang tentara berada cukup dekat untuk menangkapnya. Day yang membawa pisau langsung menghunuskannya ke tentara itu. Selama riwayat keusilan Day, dia sebetulnya nggak pernah berusaha membunuh orang, cuma melumpuhkan doang.  Sayangnya, setelah berhasil lolos, Day baru menyadari kalo si tentara itu mati. Padahal dia yakin pisaunya tidak mengarah ke bagian vital, misalnya tepat di jantung. Akhirnya dia semakin menjadi buronan nomor satu di Republik. Ditambah lagi, jadi buronan utama anak emasnya Republik yang ternyata adik dari tentara itu…

THE GOOD AND THE BAD

Jujur saja, aku sempet tidak yakin dengan novel ini lantaran cover versi Indonesia juelek banget *jahatnya*. Tapi karena dalam sebuah fanpage pencinta novel fantasi sangat menyarankan trilogi ini akhirnya kubeli juga. Apalagi waktu itu aku mendapatkan novel ini pas ada diskonan di Gramed. Alhasil, uang 60rb yang biasanya cuma dapet satu novel, sekarang bisa dapet ketiga novelnya sekaligus!

Oke balik lagi ke cover ya. Jadi seperti yang bisa kalian lihat, covernya tampak sesosok laki-laki berbadan besar sedang mengepalkan kedua tangannya. Di belakangnya ada seorang cewek berambut panjang yang memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. Di bagian bawah cover ada api-api gitu yang percikannya sampai ke tangan si cowok sehingga menimbulkan kesan bahwa api itu muncul dari tangan si cowok. Aku sempat berpikir apa novel ini ceritanya bakalan kaya I am Number Four ya? Yang tokohnya punya kemampuan super gitu? wkwk. Pas dibaca, lah di bagian mana kekuatan supernya? Oke, aku merasa bodoh sekarang.

Tapi setelah ngecek cover aslinya, aku jadi sedih. Covernya di buku asli itu simpel dan nggak norak. Malah cenderung elegan. Lalu aku bertanya-tanya kenapa Mizan nggak pake cover itu aja ya. Apakah urusan cover itu juga harus bayar juga dari si pemilik hak cipta? Yang paham kasih tau ya~

Soal ide cerita, menurutku novel-novel dystopia jaman sekarang ini sering kali menempatkan pemerintah sebagai tokoh antagonis. Coba deh kalo kalian baca The Hunger Games, antagonisnya siapa? Presiden Snow dan Capitol. Trus The Darkest Minds trilogy, antagonisnya Presiden Gray. Divergent, antagonisnya pemimpin Erudite trus juga David si petinggi di Biro Genetik. Kesannya jadi kasian banget si pemerintah jadi kambing hitam mulu :”

Tapi menurutku, dunia yang dibangun di Legend ini cukup detail dan menarik. Bagaimana dunia itu dijungkirbalikkan dari dunia yang sekarang. Kaya pusat perekonomian dunia yang dulu di AS sekarang di Afrika yang notabene saat ini ga terlalu maju. Aku sempet membayangkan gimana jadinya kalo AS itu ga sehebat sekarang. Dan bayanganku tersampaikan oleh mbak Marie Lu lewat Legend. Penggambaran kelas-kelas sosial di sini juga kentara banget. Ada sektor kumuh dan sektor permata. Orang-orang yang berbeda kelas sangat keliatan perbedaan bagaimana mereka diperlakukan. Menurutku, ini cukup bisa direfleksikan lah ya dengan keadaan saat ini yang ga jauh beda. Bisa jadi, ini diam-diam menjadi kritik terselubung yang coba disampaikan Marie Lu.

Yang kusuka dari Legend adalah penyampaian dan bahasanya ga belibet. Enak dan ngalir aja sewaktu baca. Jadi, aku cepet banget nyelesaiin novel ini. Action nya juga cukup menarik, bisa dibayangkan lah ya. Ga kaya beberapa novel lain yang kadang-kadang membuatku harus berpikir keras waktu membayangkannya.

Yang nggak kusuka dari Legend adalah kisah cintanya disini kaya agak dipaksakan. I mean, really? You suddenly fell in love with someone who you just met. Oke, maybe aku bukan orang yang percaya love at the first sight ya. Mungkin aku lebih ke crush at the first sight, haha. Jadi ceritanya si June ini habis pingsan trus pas dia bangun dia melihat Day. Dari situ dia merasa Day adalah cowok terindah yang pernah dia lihat. Lalu dia jatuh cinta. Ulululu~

Tapi yang bagus dari June adalah dia karakter yang cukup kuat ya. Dia cewek yang punya pendirian dan ga menye-menye lah. Dia ga mudah teralihkan dari tujuan utama dia. Sekalipun dia kemudian memihak ke musuh, dia punya alasan rasional dengan didukung bukti-bukti yang terlebih dulu dia temukan. Dan dia lebih dewasa daripada usianya. Kalo Day… lumayan lah. Dia cukup keren dan punya prinsip. Sayang adek lagi, duh kurang apa coba. Tapi kadang-kadang aku juga berpikir Day ini punya sisi rapuhnya sendiri, terlepas betapa ‘dewa’-nya dia kalo soal ngusilin pemerintah.

Yang bikin aku agak kurang sreg adalah kenapa tokohnya harus dibuat semuda itu. 15 tahun! Usia segitu aku pusing mikir x kuadrat tambah y kuadrat, eh mereka udah mikir negara. Progresip sekali ya :” I mean, di usia segitu seseorang sudah menjadi sangat berpengaruh pada banyak orang. Yaa, aku sih berpikir kenapa ga dibikin usia yang agak tua sedikit, misal 18 sampe 19 tahun. Masih mending lah ya. Di usia-usia itu, at least, banyak orang bakalan lebih percaya pada apa yang coba dikatakan orang tersebut. Dan juga, menurutku karakterisasi yang dibuat Marie, kaya penggambaran fisik, cara berpikir, dll kurang pas kalo dilekatkan pada anak berusia 15 tahun. Mungkin mereka dewasa lebih awal kali ya. Hmm.

Oke, gitu aja. Legend cukup menghibur untuk awal dari sebuah trilogi. Tunggu reviewku selanjutnya tentang novel keduanya, Prodigy. Buat yang penasaran dan pengen beli, semoga beruntung mendapatkan diskonan di Gramed ya. Kalo ga ketemu, monggo beli di sini, harganya mencengangkan, cuma 17ribu!!

 

Advertisements

Don't mind to give me your own review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: